Kamis, 20 September 2012

Journey to Present, Left Feet




          Annyeonghaseyo! How are you everybody? Senang sekali Author masih bisa menulis dan melanjutkan karya-karyanya yang sempat tertunda beberapa hari ini. Hhu~, Cute Author  punya beberapa urusan sih.Hm, membahas tulisan yang satu ini, sejujurnya Author ingin menyentuh hati beberapa orang yang special. Yang mungkin sekarang sedang berpikir bahwa tokoh ‘Anak Pengembara’ itu adalah dirinya. Hhe~… semoga seperti itu. Meskipun cerita ini seperti special di tulis untuk beberapa orang, namun Author berharap kalau yang lain juga bisa merasakan kepedulian yang sama untuk orangtuanya. Tenang aja, sifat tulisan ini global kok. Semua anak pasti sayang pada orangtuanya. Karena… orangtua itu adalah hadiah terindah yang diberikan ALLAH SWT untuk seluruh anak di dunia ini. Maka dari itu salah sebenarnya kalau orang menganggap bahwa Anak hadiah untuk orangtua karena sebenarnya orangtua adalah hadiah bagi anak.

Title       : Left Feet
Author  : Cute Yhuree
Cast       : ~

Sepasang kaki seorang anak yang mengembara melangkah perlahan-lahan di sebuah kebun bunga yang indah, penuh warna, dan mempesona. Diamatinya satu persatu bunga yang dilalui di kebun itu dengan mata yang berbinar. Tak khayalnya orang yang sedang jatuh cinta. Semuanya begitu indah.



Semakin masuk ke kebun itu, semakin didapatinya keindahan yang ada di sana. Di sana, ditemuinya pula sebuah rumah yang sederhana yang terletak persis di tengah-tengah kebun.  Meski nampak sederhana, namun ia merasa bahwa rumah itu penuh dengan emas permata, yang walaupun dilihat dari jauh tetap saja nampak berkilau.
Dia kini mendengar suara lagu yang indah, seperti sebuah orchestra yang sedang dimainkan oleh pemain-pemain yang berbakat. Dia menengok pada sisi kanannya dengan lembut, matanya terhenti pada seorang lelaki tua yang terlihat sedang membuat ayunan dengan beberapa perkakas sederhananya. Ia merasa tertarik dengan lelaki tua itu sambil terus berjalan. Tanpa terasa wajahnya kini sudah tepat di depan wajah lelaki tua itu. Namun lelaki tua sama sekali tidak mempedulikannya. Maka ia memutuskan hanya berdiri mengamati lelaki tua itu bekerja dan tak berbuat apapun selain tersenyum padanya.
Tiba-tiba air matanya menetes dan membasahi kedua pipinya. Apa yang sudah terjadi? Tangan lelaki tua itu berlumuran darah karena membuat ayunan itu. Tetapi lelaki tua itu tidak berhenti mengerjakannya dan tetap tersenyum. Hingga ayunan itu kini hampir jadi.
Kaki anak yang mengembara itu kini mundur perlahan-lahan dari tempat lelaki tua itu. Dan kini sedang berjalan dengan anggun ke sisi yang berlawanan, sisi kirinya. Matanya terhenti pada seorang wanita tua yang terlihat sedang merajut sebuah baju hangat. Lagi-lagi ia merasa tertarik pada wanita tua itu. Sehingga ia mendekatinya dan kini tepat berada di sampingnya. Dia tidak perlu waktu yang lama untuk meneteskan air matanya lagi. Air mata itu telah jatuh dengan sendirinya ketika melihat tangan wanita tua itu juga sedang berdarah. Dia bertanya dalam hatinya, ada apa dengan penghuni kebun ini? Mengapa mereka semua rela berdarah ‘tuk menyelesaikan pekerjaannya? Dan untuk siapa mereka rela melakukan itu semua?
Tak habis dia memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab itu, tiba-tiba muncul sesosok gadis mungil yang datang menghampiri wanita tua itu. Gadis mungil itu bernama Ana. Ya, Ana. Entah darimana dia tahu. Dia mungkin hanya menebak-nebak saja. Tapi tebakan itu benar.
Wanita tua itu buru-buru melap tangannya yang berdarah dengan bajunya. Kemudian wanita tua itu memakaikan hasil rajutannya pada Ana. Anak itu, anak yang mengembara tadi, bahkan bisa merasakan kebahagiaan Ana.
Ana kini berlari menghampiri lelaki tua yang membuat ayunan tadi. Seakan langkahnya telah menyatu, anak itu berlari mengikuti Ana. Sesampainya di sana, di tempat lelaki tua itu, anak itu melihat lelaki tua itu melap tangannya dengan bajunya lalu memeluk Ana dengan wajah bahagia. Anak itu lagi-lagi menangis.
Ya, dia masih terus menangis melihat semua itu. Melihat lelaki tua itu bermain ayunan bersama Ana, melihat wanita tua tadi juga kini sudah berada di samping lelaki tua itu dan mendorong ayunan bersama-sama. Mereka semua bahagia dan tertawa lepas. Tak ada air mata, kecuali anak itu, yang kini merasa hati dan otaknya seperti mendidih, perih, sakit. Dan dia kini terjatuh. Apa ini semua?
Anak itu kini pingsan, jatuh semakin dalam, dalam ketidaksadarannya. Dia merasa aneh dengan semua yang dilihatnya. Dia merasakan apa yang Ana rasakan. Langkah kaki, senyuman, memakai rajutan, bahkan dekapan lelaki tua tadi juga dapat dia rasakan. Tidak mungkin, ini adalah pertemuan pertama mereka. Tidak mungkin anak itu adalah…. Ya, Ana adalah dirinya.
Anak itu adalah Ana, kepalanya mulai memutar kembali memori dulu. Memori disaat dia tinggal di kebun ini. Kenangan di rumah sederhana itu, bermain ayunan bersama Ayah, dan setiap musim berganti dia akan menerima rajutan dari ibunya. Itu semua adalah kenangannya. Ana memang dirinya.
Anak itu mulai terbangun dan perlahan-lahan membuka matanya. Perasaannya saat ini benar-benar bahagia. Dia ingin segera berlari dan memeluk orang tuanya.
Namun ketika dia membuka matanya, dia tidak mendapati siapapun di sana. Hanya dia sendiri. Anak itu kini merasa sangat sedih. Dia berlari masuk ke dalam rumah sederhananya. Dan dia kembali tersenyum. Ayah, ibu, dan Ana ada di dalam. Tapi kini Ana bukan gadis mungil lagi. Ana sudah remaja, sudah tidak bermanja lagi kepada orangtuanya. Tiba-tiba anak itu mendengar suara keras Ana pada kedua orangtuanya. Ana dinasehati, namun dia malah menutup kedua telinganya dan berlari keluar rumah. Anak itu kini merasakan gemuruh di dalam hatinya.
Anak itu menunggu di sana, di dalam rumah itu bersama Ayah dan Ibunya. Hingga malam tiba, Ana belum kembali ke rumah itu. Ayah dan Ibunya kini menangis. Letih dalam penantian dan semua orang tertidur. Hingga keesokan harinya, Ana belum juga pulang.
Saat terbangun, suasana rumah itu telah berubah lagi. Semua barang yang ada di sana telah usang dan mulai rusak, kecuali barang yang ada di kamar Ana dan ayunan yang ada di halaman depan. Hanya itulah barang yang masih terawat. Terdengar suara langkah kaki dari pintu depan. Anak itu memutuskan untuk menengok siapa yang sedang masuk ke dalam rumah.

Terdiam kaku melihat sosok yang ditemuinya dan tak mampu menyapa. Yang datang itu Ana dengan keadaan yang jauh berbeda sebelum dia pergi meninggalkan rumah. Dia memakai baju dan celana berwarna hitam, kerudung hitam, dan kacamata hitam. Seperti waktu telah berlalu sepuluh tahun. Dan Ana baru kembali ke tempat ini. Anak itu berpikir baguslah. Ayah dan Ibu pasti bahagia melihat dia pulang. Dia mengikuti langkah Ana masuk ke dalam kamar Ayah dan Ibunya. Tetapi, di sana kosong. Tidak ada mereka yang selalu menanti kepulangan Ana. Wajah cemas itu tidak ada lagi. Kemana mereka?

Dia melihat Ana menyentuh barang-barang di kamar itu. Terutama foto besar yang terpasang di dinding. Foto Ayah, Ibu, dan Ana. Tentu Ana pasti menangis, kepulangannya yang sangat lama membuat dia merindukan segalanya. Tetapi, tangisannya itu sungguh berlebihan. Hingga tubuhnya terlihat begitu rapuh, hampir terjatuh. Anak itu juga baru menyadari kalau Ana tidak pernah melangkah dengan baik semenjak masuk ke dalam rumah ini. Langkahnya benar-benar hanya diseret. Dan akhirnya Ana pun terjatuh. Anak itu segera berlari menghampiri Ana dan berusaha mengangkatnya. Tetapi keanehan terjadi lagi padanya.

Sosok Ana memudar dari penglihatannya dan keadaan di sekitarnya berubah menjadi asap. Semua terlihat putih. Tetapi dia tidak meninggalkan tempat itu, hanya bertahan di sana. Dan saat semua asap itu menghilang sehingga sekitarnya tampak jelas kembali, dia tidak di rumah itu lagi. Dia berdiri tepat di depan dua buah nisan yang saling berdampingan dan bertuliskan nama Ayah dan Ibu.




Selasa, 14 Februari 2012

Belajar Ngebangun Tembok Raksasa


AAAAAAIIIIIIUUUUUUUEEEEEEEOOOOOO~

Lagi dan lagi… Aku melakukan kesalahan padanya hari ini. Setiap kali kami akan bertemu, dalam hatiku selalu mengatakan “ya, hari ini 1 cm lebih dekat” but in fact “tidak, hari ini 5 cm lebih jauh”. Dan yang membuat jarak itu semakin jauh adalah diriku sendiri. Kebodohanku yang membuat tubuhku begitu beku dan kaku bila bertemu dengannya. Padahal kami sudah tahu satu sama lain saling menyukai. He must realize, how stupid I amL.
Setiap kali kami bertemu ataupun hanya berpapasan, dia selalu berusaha melebarkan senyum manis di wajahnya untukku. Tetapi, hal itulah yang membuatku tak bisa berekspresi dan melihatnya. Yang kulakukan pada saat-saat itu justru malah membuang wajah sejauh-jauhnya and just obey him. Uuugh~, ingin sekali kumasukkan kepala ini ke dalam tas kesayangannya Minwoo-Boyfriend untuk bersembunyi dan membuang kesal *jhahahaha~, itu mah ngarep*J
But whatever, again and again I have done it well… making a great wall among us. Ckckck~, kaya’nya memang sudah keahlianku memperlebar jarak, membangun tembok, bahkan tembok China atau tembok Berlin sekalipun sanggup kubangun dalam kisah percintaanku sendiri *teknik arsitek dan teknik sipil mah lewat* hehehehehehe~
Saat ini dan selanjutnya aku hanya bisa mengikuti arah angin saja untuk menerbangkan kisah kami. Aku tak ingin menggunakan istilah “akan mengikuti arus saja” dengan alasan, yang pertama, aku tidak bisa berenang dan yang kedua, itu terlalu mendramatisir *emang ‘mengikuti arah angin’ tidak mendramatisir??* hahahahaha
[Backsound of this Story: Senyum Semangat-SM*SH]

Dia Dia Dia...






Malam ini saya kembali memikirkan DIA. Setiap kali aku mengalami konflik dengan orang yang kuanggap sahabat’ aku pasti akan langsung memikirkan DIA.





Suasana hati sedang tidak enak, moreover kondisi kesehatan juga kurang baik… membuatku benar-benar tidak ingin melakukan apapun hari ini dan beberapa hari ke depan. Aku bahkan tidak sanggup menatap lama-lama tumpukan kertas-kertas laporan of which deadline is three days later.
Terdiam dan berbaring sejenak membuatku mengingat konflik hari ini. Konflik yang telah membuatku terpaksa pulang dari kampus meskipun tengah hujan keras. Truthfully, aku juga tidak ingat hal apa tadi yang membuatku pergi begitu saja meninggalkan sahabatku dengan suasana hati yang sedikit marah. Hanya beberapa kata dalam conversation kami tadi dan itu langsung membuatku beranjak pergi darinya.



Inilah yang membuatku kembali mengingat seseorang yang juga pernah kutinggalkan dan sampai sekarang kami tidak pernah bertemu kembali. Dia adalah my first best friend, orang yang pertama kali membuatku percaya akan adanya sahabat. Dia juga orang yang selalu membuatku tertawa, nyaman, dan aman bila berada di sisinya. Dia sangat baik dan sangat takut membuatku terluka. Aku tahu itu karena Dia pernah mengatakannya ketika pernah sekali aku menangis karena Dia. Dia tidak berbuat kesalahan apapun ketika aku memutuskan menjauhinya. Akulah yang bersalah padanya. Sebuah kesalahan besar karena aku telah menganggapnya lebih dari seorang sahabat. And I realize, itu tidak boleh.
               
           Aku tidak ingin perasaanku ini membuatku melakukan kesalahan yang semakin besar. Therefore, aku menjauh dari Dia. Membuat pembatas setinggi mungkin agar tidak bisa bertemu dengannya dan Dia pun tidak akan bisa melihatku lagi. Menghindari setiap kegiatan yang dapat mempertemukanku dengan Dia. Maaf… Maaf… Maaf... Dan beribu-ribu maaf ingin kuucapkan padanya.

          
           Masa yang paling berat yaitu ketika di awal aku menghindarinya. Dia terus berusaha menghubungiku, mengajak ingin bertemu dengan berkata bahwa saat ini dia ingin berbagi cerita tentang masalah dan kebahagiaan yang dialaminya. Entah sekuat apa aku saat itu sehingga mampu menolak semua ajakannya, menghapus pesan-pesan darinya di hp, mengabaikan panggilan masuk darinya, inbox di facebook, mention di twitter, chatting di Yahoo Messanger! dan di berbagai social network yang lain. Itu benar-benar membuatku sakit dan merasa sesak di dada, heartbreak. Saat itu, aku hanya berpikir akan mengabaikan segala tentangnya beberapa waktu saja. Sampai Tuhan membuatku sadar, back to my sense.
Sekarang, setelah bertemu dengan Mr. R, aku sudah mampu mengendalikan perasaanku padanya. Bahkan aku mungkin sudah tidak berpikir lagi tentang ‘menganggapnya lebih dari seorang sahabat’. Tetapi itu sudah terlambat. Aku tidak akan bisa kembali menemuinya seperti dulu lagi. Aku merasa sangat bersalah padanya. Benar-benar tidak ada keberanian untuk mengirimkan pesan singkat padanya,”Kamu dimana? Aku kangen, sahabatku….”

Selasa, 03 Januari 2012

Dan Judul Pun Tak Ada

Hwaaaaaaaaaaaaaaaaa~!!!!!!!!!!!!

Asli, tuh org bner" ngesellin tiada tara. Bisa"nya dia marah dan meminta dengan tidak sabaran tanpa peduli dengan kondisi yang terjadi padaku saat itu. I'm just a girl whose hands are doing something. Mn bs saya make lagi buat kerja yang lain. Biarkanlah kedua tangan ini menyelesaikan kerjaannya kemudian dirimu datang meminta another. Bahkan mungkin saya bisa mengerjakan masalah ini lebih cepat dan membantu anda kalau anda tidak mengganggu.

Hal ini sungguh menyebalkan, ketika kebaikan kita disalahartikan oleh mereka yang kemudian akan berpikir kita mudah ditindas setelah kita banyak memberikan kemudahan untuknya. Of course, I really really hate the kind of people like this. Walaupun sepertinya itu hanya bercanda saja, tetapi tetap membuat jengkel.
Mudah-mudahan dia tidak mengulangi perbuatannya itu kepada orang lain. Kasian jg if others merasakan hal yang sama. Hfff, what a pity junior.

Kamis, 22 Desember 2011

Crazy Me


Reflection time, Mendadak Gila!!!


                Hwaaaaaa!!!!! Hari yang berat! Berat untuk bangun dari tempat tidur, bahkan berat walau hanya sekedar untuk mengangkat kepala! Oh, No… I suddenly remember today is Saturday. For some people today is a holiday, but for me today is a working day. Even it would be done until 20.00 pm. Hiks~
                Hm~, walaupun hari ini I’ll be busy with my job but I always present a few hours for taking some reflections. Ingat-ingat kejadian seminggu ni… *5 minutes later*… Oh, sucks!!! I regret to remembering it! Banyak banget masalah yang udah mencuat ke publik (bahasa gue dong, kaya’ pembawa acara gossip ne’) akhir-akhir ni. Mulai dari kecelakaan pandang (alamak) sama Mr. Glasses, ujian yang ngegantung (kaya’ ranting copot nyasar di sela-sela ketek pohon #plis, jangan dibayangin), black discuss, ngerayain ultah sahabat dengan senyum yang dipaksa dan ekspresi datar (bahkan ga’ bahagia sama sekali #hiks, maaf yh say. Habis waktu itu lagi puncak-puncaknya masalah). Then sumpit, itu semua sangat mengganggu hari-hari optimalku.
                Hwalamak!!! Kecelakaan pandang? Ambigu banget the title. Kalo diartikan menurut bahasa Indonesia yang baik dan mungkin aja benar, kecelakaan pandang itu merupakan pandang-pandangan satu sama lain di tengah rel kereta api lalu ga’ nyadar kalo kereta apinya mau numpang lewat sekejap buzzzzzzzz… horray!!! Ketabrak deh!!! Hwakakakak #dipelototi sama korban yang ketabrak.
                Hm, well… balik ke dunianya manusia-sadar daripada ngomong ngelantur yang kalo berlanjut terus jadi makin ga’ jelas. Kecelakaan yang dimaksud di sini, ketika mata sepasang individu yang sedang dimabuk cinta (ala Armada) ini saling berpapasan… Eits, yang satu malah langsung buang muka di detik-detik terakhir yang berguna banget buat majuin hubungan pertemanan menjadi kekasih. Dan celakanya orang itu adalah ME (jawabku sambil nunjuk diri dengan OC~Over Confident). Kecelakaan pandang banget kan #ngarep yang baca udah pada ngerti. Singkatnya (takut kepanjangan lagi dan ngelantur), akibat insiden sesaat yang kurang dari semenit itu udah mundurin (boro-boro maju) hubungan kami 5 langkah. Padahal setiap langkah itu dibangun dengan 1001 usaha dan do’a #lebay. L
                Nah, kalo yang masalah black discuss itu ga’ usah dan ga’ penting di bahas deh. Pokoknya cukup membuat perasaanku sama seperti bapak-bapak yang lagi bawa mobil mercedesnya ke bengkel ‘ketook magic’ (ngarep bakal disulap menjadi mobil ferrary yang okkeh punya), trus ga’ tau dan emang ga’ mau tau mobilnya lagi diapain di dalam, nguping suara gedubrak-gedebruk dalam bengkel. Dan akhirnya sukses membuat si bapak-bapak ini penasaran. Of course si bapak-bapak ini pun memutuskan  masuk dan memeriksa apa yang dilakukan montir-montir seksi (bacanya: montir-montir serem) pada mobilnya. Dan apa yang didapatinya… hwalaaaaa, mereka sukses membuat mobil Mercedes bapak-bapak ini berubah menjadi ‘Bemo’ keluaran taon Malin Kundang masih nyusu sama emmaknya, Dayang Sumbi (Nah loh, bukannya Dayang Sumbi itu emmaknya Sangkuriang yak?? #garuk-garuk kepala). Kejaaam banget kan #so’ shocked.
                Mm, kalo cerita ultah sahabatku yang hampir aja gagal dirayain itu masalah lain lagi. Momentnya ga’ tepat guys. Ga’ berat sama sekali sih waktu ngerjain dia dengan pura-pura marah karena suatu kesalahan yang dibuat-buat. Habis waktu itu kan aku emang lagi marrah-marrimar (r-nya double) benaran. Jadi, kesannya aktingku itu natural banget (malah bisa ngalahin artis-artis Hollywood yang jago acting dan dapat pialanya om Oscar). Hwahahaha. Tapi yang susah tuh malah ending dari kejutan ini. Aku harus bisa tersenyum (nyengir kalo perlu) di depan orang-orang sambil bilang HAPPY b’day yah say. Gimana mungkin aku senyum saat perasaan di hati bagai ditusuk-tusuk paku tindis nyampur pisau belati, sangkur, dan duri kaktus (alamak, udah sesadis Jigsaw di film Saw). Hiks~
                “Yhu….!!! Yhu…!!!” Terdengar suara ibuku dari lantai satu memanggil-manggil bak rayuan pulau kelapa. “Ga’ kerja hari ini Nak?” muncul pertanyaan.
                “Bloom Bu. Ntar jam 1 baru masuk,” aku menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari Bummie (my Lovely Laptop).
Seolah terdengar ibuku berkata “Great!” sebelum akhirnya bersahut lagi “Cepat ganti baju dan cuci muka. Antar ibu ke acara akikahan tante Nak!”
                Oh, No! Harusnya kuperkirakan ini sebelumnya. Dengan senyum yang dipaksa, aku kemudian menjawab, “Beres Mam! Just wait me for a few minute.” That’s the end of my conversation with my Lovely Mom. And it means (I’m sure you know) I must prepare myself and going now. So, I say goodbye for this section of speak up… Bye!



DramaYuri


Sharing Film
Guys…!!!!!!!! I’m coming with the “Menggebu-gebu Feeling”. Hhe~… Terkesan sapaan yang lebay sih, tapi memang harus kunyatakan seperti itu karena yang ingin ku share kali ini juga merupakan kisah lebay selebay-lebaynya *lebay tingkat dewa* :D

                Well, I’ll start this sharing with a question… Ada yang udah nonton film barunya Kong Hyo Jin bloom?? Itu tuh yang main di film pasta yang ga’ henti-hentinya masang muka innocent bin mupeng di serial Pasta. Bwakakakak~, masih dengan karakter yang ga’ jauh berbeda di film “THE GREATEST LOVE”, Kong Hyo Jin berperan sebagai Gu Ae Jung. Nah, kali ini dia berpasangan dengan Cha Seung Won oppa yang berperan sebagai Dok Go Jin. Ampun… Sumpah… Film itu benar-benar Kocak Abissss!!! I, Mam, Jimoon, and Accha ga’ henti-hentinya laughing on the floor and kebanting kanan-kiri nonton tiap adegan dalam film itu. Mulai dari ekspresi Dok Go Jin dan Ae Jung yang lebay tingkat dewa, cerita cinta yang ngelawak, sampai sound effect and backsoundnya super duper lebay. Asli guys, siapapun yang lagi nyari-nyari film buat ngakak till the end of the story, atau pengen heartbreak dulu sementara waktu dengan korean sweet story, nah I reference this film to you… “The Greatest Love”, depicts a comical love story between a popular actor and a washed up former pop idol:D
                Banyak banget istilah baru yang terngiang-ngiang dari film itu… Mulai dari ‘Ding Dong’, ‘Deng-Deng’, ‘Keppo’, ‘Appa’, sampai ‘Heartbreak’. Tentunya istilah itu disebutkan dengan gaya lebaynya Go Jin. Oh iyya, satu hal lagi yang buat aku suka banget sama film itu, Lee Seung Gi oppa juga sempat nongol dengan gayanya yang so cute but so cool di episode 11 atau 12 mun2gkin #hhe~, udah mulai pikun. Walaupun cuma sepintas kurang dari 10 menit saja tapi cukup membuatku dan adik-adik *fans Seung Gi oppa* screaming. Dan tentu saja, pada akhirnya harus kebanting lagi dengan scenario film yang tak henti-hentinya komedi. Hhe~
                Okkay guys, I’ll write down more detail about this film (hm, emang yang di tulis di atas belum cukup panjang nan lebar??), this is it *ala-ala Farah Queen*:
Cast: Cha Seung Won as Dok Go Jin, Kong Hyejin as Gu Ae Jung, Yoo In Na as Kang Se Ri, and Han Jin Hee as  Yoon Pil Joo.
Short Story: Ae Jung is a female band member who is already over the hill. When she enters a variety show to pretend marriage with the top star Go Jin, She gets entangled in Love Triangle along with her Ex-Bandmate (Yoo In Na). Yoon Pil Joo is a doctor of oriental medicine who has no interest in the entertainment industry but meets Ae Jung by chance and falls for her.^^

Udah mau cabut… Eits, tunggu dulu. Masih ada satu referensi film lagi, ‘PROTECT THE BOSS’. Ga’ kalah kocak bin lebay deh sama ‘The Greatest Love’. Kalian juga should watch this film. Guarantee we'll be feeling alright and happy ngeliat Cha Ji Hyeon and No Eun Seol yand ngelawak banget kaya wayangan di OVJ. Bwakakakak~, it’s so funny. Ditambah lagi Jae Jong oppa main dalam film itu. Yups, dengan gayanya yang paling cocok menjadi Cold Prince, Jae Jong oppa juga ternyata bisa ngelawak karena jatuh cinta sama Miss No. Muanteb deh pokoknya^^b
Occey~, udah cukup penasaran dan interest dengan limited information ni bloom? #ngarep udah pada siap-siap meluncur ke tempat jualan kaset *meski bajakan*… hhe~, kita kan senasib. Senasib sama-sama suka nongkrong di tempat jualan kaset bajakan. Malahan aku punya contact personnya mba’ langgananku beli kaset bajakan. Kalau ada pilem muanteb, particularly whatever about Suju, pasti Si Mba’nya bakal ngirim informasi super kilat buat segera meluncur ke sana:D hahahahahah… *Dok Go Jin’s laughing*
Well Guys, kaya’nya aku udah harus stop cuap-cuap dulu deh… Harus ciaaout ke suatu tempat. Sekian laporan dari Agnes Monica *ngarep yang baca pada ngangguk, tanda ngaku iyya… gue gila:D*. Ada khilafnya mohon maaf yh. Sekarang izinkan saya pamit duluan. Bye! #walking on the red carpet.
PS: PleasePlease… Tolong banget! Kalo ada yang udah nonton tolong banget kapan-kapan kita janjian ketemuan trus ngobrol bareng di restaurant bintang 5 (bacanya: warung kopi deket rumah) yh. At least ngobrol or nge-chat di dunia maya aja juga boleh. Mau banget denger opini orang lain tentang pilem gokil ini. Atau kali aja kalian punya other referents yang bernuansa sama. That’s really good! Occey~..^^
Inference, 10 top film akhir-akhir ni (ga’ tau mau bilang bulan berapa sampe bulan berapa sih, hohoho) menurut my point of view:
The Greatest Love (my love story, secara sama-sama artis yh)
Protect The Boss (nonton anak buah gue main di pilem ni)
Lie To Me (daripada lagunya Radja Band: jujurlah padaku!!! -.-“)
Smile, Donghae (oh God, he’s beautiful)
Myung Wol, Beautiful Spy (thank you #hohoho, ngarep)
Ojakgyo Brothers (yang main ga’ beda jauh ma keluarga gue)
49 Days (hm, hari-hari meratapi nasib jomblo di rumah #curcol)
Heartstring (‘ogah ah, skalian aja Heartbreak #alamak!!!)
Secret Garden (pengen punya)
Poseidon (my place for honey moon)
Hm, judul-judul film di atas itu ga’ berurut yh (silahkan ngurut sendiri, atau bawa skalian ke mak erot biar di urut di sana #ga’ nyambung) dan nominasinya juga berdasarkan my glasses. Jadi, kalo ada yang beda pendapat ‘yowwwess’ kok, aku ‘legowo’ aja. J

Selasa, 13 Desember 2011

Lovely Lonely


Sayap Sutera dan Lilin Kunang-Kunangku
By Han Yu Ri
Ku tersenyum saat mengingatmu
Karena saat itu aku sangat merindukanmu
Dan ku menangis saat merindukanmu
Karena saat itu kau tak berada di sampingku
Tetapi, ku pejamkan mata indahku
Karena saat itu kau akan terasa ada di dekatku
Karena kau telah berada di hatiku untuk selamanya
Ayah...
Ayah...
Hati, cinta, dan rindumu
selalu menjadi sayap-sayap indah yang selalu melindungiku
Lembut dan menyejukkan jiwa
Betapapun berat untuk melangkah maju
Sayap itu mampu menerbangkanku
Hingga ke langit yang tinggi
                                                                                                                                                                                    Ayah...
Peluk, kasih, dan sayangmu
Adalah cahaya berkilau yang paling indah di dunia
Terang dan menghangatkan jiwa
Betapapun gelap jalan yang kulalui
Cahaya itu mampu menuntun dan menerangi jalanku
Ayah...
Kepergianmu telah mematahkan sayap-sayapku
Seperti seekor merpati yang malang
Yang tidak memiliki sepayang sayap yang indah
Tak mampu terbang lagi bahkan untuk berjalan
Kepergianmu telah meredupkan cahayaku
Seperti sebatang lilin yang malang
Yang tidak memiliki sumbunya
Tak mampu menerangi kegelapan lagi

Tak ada lagi yang tersisa untukku
Selain kenangan-kenangan indah bersamamu
Mata indahmu yang dengannya kau biasa melihat keindahan cinta
Mata indamu yang dahulu selalu menjagaku
Kini semuanya terasa jauh meninggalkanku
Kini aku telah kehilanganmu
Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu

Aku benar-benar merindukanmu
Bahkan hanya bayangmu saja itu sudah cukup mengusir kerinduanku
Tak perlu melihat senyum indahmu, sosok bijaksanamu
Mendengar suara merdumu, nasehatmu
Cukup bayangmu saja... Ayah
Ayah... Ayah... Ayah...
Seandainya waktu bisa kembali
Disaat aku masih bisa memanggilmu Ayah
Kuingin menyebut kata itu lagi
Tapi pada siapa sekarang?
Tak ada yang pantas untukku selain dirimu

Lebih dari dua tahun ini
Kumenata kepingan hatiku yang masih tersisa
Untuk bangkit dan mampu berdiri tanpa dirimu
Betapa Tuhan Maha Kasih dan Maha Penyayang
Dia meyadarkanku akan keberadaan permata berkilau
yang selama hidupmu juga selalu menjadi cinta dan kasihmu
Wanita tercantik pendampingmu
Wanita yang paling terluka akan kepergianmu
Dan yang paling tegar setelah kepergianmu
Ibu...
Memberiku kain sutera terindah di dunia
Yang mampu menutupi bekas luka dari sayapku yang patah
Dan bahkan mampu menjadi baja yang melindungi di kala perang hidupku
Ibu...
Juga memeberiku kunang-kunang indah dan terang
Yang tak perlu kukhawatirkan lagi tak memiliki sumbu
Kini menghidupkan sinarku yang padam

Ayah... Ibu...
Kehadiranmu takkan pernah terganti
Bagai pecahan logam
mengekalkan
Kesunyian, kesendirian, dan kesedihanku