Kamis, 20 September 2012

SMTown World Tour III di Jakarta besok, Para Artis Tiba Hari ini


AKU GALAU....Seperti yang kita tahu guys, gelaran 'SM Town Live World III' dengan Kangta, BoA, TVXQ, Super Junior, SNSD, SHINee, f(x), dan EXO bakal siap digelar di Jakarta besok, 22 September di Gelora Bung Karno, Jakarta. Mereka diperkirakan berjumlah lebih dari 50 orang. Ditambah manajer, stylist dan kru total yang jumlahnya sangat banyak. 

Dan jengjengjeng... ini dia seat plan “SM Town Live World Tour III”  spesial untuk para galauers yang tidak ikutan nonton konser *piss mba', bro*:
Tribune (tempat duduk tanpa nomor) 3 Rp 500 ribu
Tribune 2 Rp 800 ribu
Tribune 1 Rp 1,1 juta
Festival Rp 1,4 juta
VIP (tempat duduk bernomor) Rp 2,5 juta



  

   Kalau di tahun 2010 mereka menyewa pesawat pribadi untuk konser di Los Angeles, kali ini pengisi acara "SM Town" memilih naik pesawat komersil untuk ke Indonesia (Sumber: Managing Director W Production, Sean Sudwikatmono). Mereka tidak pakai pesawat pribadi karena para artis SM Town tidak memakai pesawat pribadi karena datang bergiliran dan berangkat dari negara yang berbeda-bedaBeberapa dari mereka ada job di negara lain, jadi tidak bisa berangkat bareng. Kru yang datang memang cukup banyak. Namun mereka datang bergiliran setiap harinya sejak minggu lalu. Artisnya pun tidak semua berangkat dari Korea. 

     Namun sudah sejak sebulan lalu ada kabar Leeteuk 'Super Junior' tidak akan hadir di konser SM Town berhembus kencang. Hari ini, Leeteuk terlihat di bandara Incheon, Korea. Jadi ikut apa tidak sih? *kepo*... Masih belum ada yang tahu. Yang jelas Leeteuk datang ke bandara bersama para personel Super Junior. Dia sempat mendatangi loket pelayanan paspor di bandara Incheon. Namun setelahnya, Leeteuk yang memakai kaos hitam serta topi abu-abu langsung kembali ke mobil bersama sang manager. Dia bahkan tak ikut berfoto bersama personel Super Junior lainnya.

     Selain itu, Sulli dan Minho juga tidak terlihat di bandara. Belum diketahui pasti apakah mereka akan hadir di konser besok atau tidak mengingat keduanya sedang disibukkan dengan syuting drama 'To The Beautiful You'.



A Present From Daddy





       Seorang pemuda sebentar lagi akan di wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.

     Diapun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenangsenang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya. Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,... bukan sebuah kunci!

Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Alquran yang bersampulkan kulit asli, di kulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas. Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, “Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan Alquran ini untukku?” Lalu dia membanting Alquran itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu.


     Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses. Dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas. Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.

     Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk ke rumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal disitu. 

      Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelek terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Alquran itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu.

   
  Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Alquran itu. Dia memungutnya.. sebuah kunci mobil! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan! Dia membuka halaman terakhir Alquran itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.




     Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahuntahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. Bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga. Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk disamping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati...




Journey to Present, Left Feet




          Annyeonghaseyo! How are you everybody? Senang sekali Author masih bisa menulis dan melanjutkan karya-karyanya yang sempat tertunda beberapa hari ini. Hhu~, Cute Author  punya beberapa urusan sih.Hm, membahas tulisan yang satu ini, sejujurnya Author ingin menyentuh hati beberapa orang yang special. Yang mungkin sekarang sedang berpikir bahwa tokoh ‘Anak Pengembara’ itu adalah dirinya. Hhe~… semoga seperti itu. Meskipun cerita ini seperti special di tulis untuk beberapa orang, namun Author berharap kalau yang lain juga bisa merasakan kepedulian yang sama untuk orangtuanya. Tenang aja, sifat tulisan ini global kok. Semua anak pasti sayang pada orangtuanya. Karena… orangtua itu adalah hadiah terindah yang diberikan ALLAH SWT untuk seluruh anak di dunia ini. Maka dari itu salah sebenarnya kalau orang menganggap bahwa Anak hadiah untuk orangtua karena sebenarnya orangtua adalah hadiah bagi anak.

Title       : Left Feet
Author  : Cute Yhuree
Cast       : ~

Sepasang kaki seorang anak yang mengembara melangkah perlahan-lahan di sebuah kebun bunga yang indah, penuh warna, dan mempesona. Diamatinya satu persatu bunga yang dilalui di kebun itu dengan mata yang berbinar. Tak khayalnya orang yang sedang jatuh cinta. Semuanya begitu indah.



Semakin masuk ke kebun itu, semakin didapatinya keindahan yang ada di sana. Di sana, ditemuinya pula sebuah rumah yang sederhana yang terletak persis di tengah-tengah kebun.  Meski nampak sederhana, namun ia merasa bahwa rumah itu penuh dengan emas permata, yang walaupun dilihat dari jauh tetap saja nampak berkilau.
Dia kini mendengar suara lagu yang indah, seperti sebuah orchestra yang sedang dimainkan oleh pemain-pemain yang berbakat. Dia menengok pada sisi kanannya dengan lembut, matanya terhenti pada seorang lelaki tua yang terlihat sedang membuat ayunan dengan beberapa perkakas sederhananya. Ia merasa tertarik dengan lelaki tua itu sambil terus berjalan. Tanpa terasa wajahnya kini sudah tepat di depan wajah lelaki tua itu. Namun lelaki tua sama sekali tidak mempedulikannya. Maka ia memutuskan hanya berdiri mengamati lelaki tua itu bekerja dan tak berbuat apapun selain tersenyum padanya.
Tiba-tiba air matanya menetes dan membasahi kedua pipinya. Apa yang sudah terjadi? Tangan lelaki tua itu berlumuran darah karena membuat ayunan itu. Tetapi lelaki tua itu tidak berhenti mengerjakannya dan tetap tersenyum. Hingga ayunan itu kini hampir jadi.
Kaki anak yang mengembara itu kini mundur perlahan-lahan dari tempat lelaki tua itu. Dan kini sedang berjalan dengan anggun ke sisi yang berlawanan, sisi kirinya. Matanya terhenti pada seorang wanita tua yang terlihat sedang merajut sebuah baju hangat. Lagi-lagi ia merasa tertarik pada wanita tua itu. Sehingga ia mendekatinya dan kini tepat berada di sampingnya. Dia tidak perlu waktu yang lama untuk meneteskan air matanya lagi. Air mata itu telah jatuh dengan sendirinya ketika melihat tangan wanita tua itu juga sedang berdarah. Dia bertanya dalam hatinya, ada apa dengan penghuni kebun ini? Mengapa mereka semua rela berdarah ‘tuk menyelesaikan pekerjaannya? Dan untuk siapa mereka rela melakukan itu semua?
Tak habis dia memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab itu, tiba-tiba muncul sesosok gadis mungil yang datang menghampiri wanita tua itu. Gadis mungil itu bernama Ana. Ya, Ana. Entah darimana dia tahu. Dia mungkin hanya menebak-nebak saja. Tapi tebakan itu benar.
Wanita tua itu buru-buru melap tangannya yang berdarah dengan bajunya. Kemudian wanita tua itu memakaikan hasil rajutannya pada Ana. Anak itu, anak yang mengembara tadi, bahkan bisa merasakan kebahagiaan Ana.
Ana kini berlari menghampiri lelaki tua yang membuat ayunan tadi. Seakan langkahnya telah menyatu, anak itu berlari mengikuti Ana. Sesampainya di sana, di tempat lelaki tua itu, anak itu melihat lelaki tua itu melap tangannya dengan bajunya lalu memeluk Ana dengan wajah bahagia. Anak itu lagi-lagi menangis.
Ya, dia masih terus menangis melihat semua itu. Melihat lelaki tua itu bermain ayunan bersama Ana, melihat wanita tua tadi juga kini sudah berada di samping lelaki tua itu dan mendorong ayunan bersama-sama. Mereka semua bahagia dan tertawa lepas. Tak ada air mata, kecuali anak itu, yang kini merasa hati dan otaknya seperti mendidih, perih, sakit. Dan dia kini terjatuh. Apa ini semua?
Anak itu kini pingsan, jatuh semakin dalam, dalam ketidaksadarannya. Dia merasa aneh dengan semua yang dilihatnya. Dia merasakan apa yang Ana rasakan. Langkah kaki, senyuman, memakai rajutan, bahkan dekapan lelaki tua tadi juga dapat dia rasakan. Tidak mungkin, ini adalah pertemuan pertama mereka. Tidak mungkin anak itu adalah…. Ya, Ana adalah dirinya.
Anak itu adalah Ana, kepalanya mulai memutar kembali memori dulu. Memori disaat dia tinggal di kebun ini. Kenangan di rumah sederhana itu, bermain ayunan bersama Ayah, dan setiap musim berganti dia akan menerima rajutan dari ibunya. Itu semua adalah kenangannya. Ana memang dirinya.
Anak itu mulai terbangun dan perlahan-lahan membuka matanya. Perasaannya saat ini benar-benar bahagia. Dia ingin segera berlari dan memeluk orang tuanya.
Namun ketika dia membuka matanya, dia tidak mendapati siapapun di sana. Hanya dia sendiri. Anak itu kini merasa sangat sedih. Dia berlari masuk ke dalam rumah sederhananya. Dan dia kembali tersenyum. Ayah, ibu, dan Ana ada di dalam. Tapi kini Ana bukan gadis mungil lagi. Ana sudah remaja, sudah tidak bermanja lagi kepada orangtuanya. Tiba-tiba anak itu mendengar suara keras Ana pada kedua orangtuanya. Ana dinasehati, namun dia malah menutup kedua telinganya dan berlari keluar rumah. Anak itu kini merasakan gemuruh di dalam hatinya.
Anak itu menunggu di sana, di dalam rumah itu bersama Ayah dan Ibunya. Hingga malam tiba, Ana belum kembali ke rumah itu. Ayah dan Ibunya kini menangis. Letih dalam penantian dan semua orang tertidur. Hingga keesokan harinya, Ana belum juga pulang.
Saat terbangun, suasana rumah itu telah berubah lagi. Semua barang yang ada di sana telah usang dan mulai rusak, kecuali barang yang ada di kamar Ana dan ayunan yang ada di halaman depan. Hanya itulah barang yang masih terawat. Terdengar suara langkah kaki dari pintu depan. Anak itu memutuskan untuk menengok siapa yang sedang masuk ke dalam rumah.

Terdiam kaku melihat sosok yang ditemuinya dan tak mampu menyapa. Yang datang itu Ana dengan keadaan yang jauh berbeda sebelum dia pergi meninggalkan rumah. Dia memakai baju dan celana berwarna hitam, kerudung hitam, dan kacamata hitam. Seperti waktu telah berlalu sepuluh tahun. Dan Ana baru kembali ke tempat ini. Anak itu berpikir baguslah. Ayah dan Ibu pasti bahagia melihat dia pulang. Dia mengikuti langkah Ana masuk ke dalam kamar Ayah dan Ibunya. Tetapi, di sana kosong. Tidak ada mereka yang selalu menanti kepulangan Ana. Wajah cemas itu tidak ada lagi. Kemana mereka?

Dia melihat Ana menyentuh barang-barang di kamar itu. Terutama foto besar yang terpasang di dinding. Foto Ayah, Ibu, dan Ana. Tentu Ana pasti menangis, kepulangannya yang sangat lama membuat dia merindukan segalanya. Tetapi, tangisannya itu sungguh berlebihan. Hingga tubuhnya terlihat begitu rapuh, hampir terjatuh. Anak itu juga baru menyadari kalau Ana tidak pernah melangkah dengan baik semenjak masuk ke dalam rumah ini. Langkahnya benar-benar hanya diseret. Dan akhirnya Ana pun terjatuh. Anak itu segera berlari menghampiri Ana dan berusaha mengangkatnya. Tetapi keanehan terjadi lagi padanya.

Sosok Ana memudar dari penglihatannya dan keadaan di sekitarnya berubah menjadi asap. Semua terlihat putih. Tetapi dia tidak meninggalkan tempat itu, hanya bertahan di sana. Dan saat semua asap itu menghilang sehingga sekitarnya tampak jelas kembali, dia tidak di rumah itu lagi. Dia berdiri tepat di depan dua buah nisan yang saling berdampingan dan bertuliskan nama Ayah dan Ibu.




Selasa, 14 Februari 2012

Belajar Ngebangun Tembok Raksasa


AAAAAAIIIIIIUUUUUUUEEEEEEEOOOOOO~

Lagi dan lagi… Aku melakukan kesalahan padanya hari ini. Setiap kali kami akan bertemu, dalam hatiku selalu mengatakan “ya, hari ini 1 cm lebih dekat” but in fact “tidak, hari ini 5 cm lebih jauh”. Dan yang membuat jarak itu semakin jauh adalah diriku sendiri. Kebodohanku yang membuat tubuhku begitu beku dan kaku bila bertemu dengannya. Padahal kami sudah tahu satu sama lain saling menyukai. He must realize, how stupid I amL.
Setiap kali kami bertemu ataupun hanya berpapasan, dia selalu berusaha melebarkan senyum manis di wajahnya untukku. Tetapi, hal itulah yang membuatku tak bisa berekspresi dan melihatnya. Yang kulakukan pada saat-saat itu justru malah membuang wajah sejauh-jauhnya and just obey him. Uuugh~, ingin sekali kumasukkan kepala ini ke dalam tas kesayangannya Minwoo-Boyfriend untuk bersembunyi dan membuang kesal *jhahahaha~, itu mah ngarep*J
But whatever, again and again I have done it well… making a great wall among us. Ckckck~, kaya’nya memang sudah keahlianku memperlebar jarak, membangun tembok, bahkan tembok China atau tembok Berlin sekalipun sanggup kubangun dalam kisah percintaanku sendiri *teknik arsitek dan teknik sipil mah lewat* hehehehehehe~
Saat ini dan selanjutnya aku hanya bisa mengikuti arah angin saja untuk menerbangkan kisah kami. Aku tak ingin menggunakan istilah “akan mengikuti arus saja” dengan alasan, yang pertama, aku tidak bisa berenang dan yang kedua, itu terlalu mendramatisir *emang ‘mengikuti arah angin’ tidak mendramatisir??* hahahahaha
[Backsound of this Story: Senyum Semangat-SM*SH]

Dia Dia Dia...






Malam ini saya kembali memikirkan DIA. Setiap kali aku mengalami konflik dengan orang yang kuanggap sahabat’ aku pasti akan langsung memikirkan DIA.





Suasana hati sedang tidak enak, moreover kondisi kesehatan juga kurang baik… membuatku benar-benar tidak ingin melakukan apapun hari ini dan beberapa hari ke depan. Aku bahkan tidak sanggup menatap lama-lama tumpukan kertas-kertas laporan of which deadline is three days later.
Terdiam dan berbaring sejenak membuatku mengingat konflik hari ini. Konflik yang telah membuatku terpaksa pulang dari kampus meskipun tengah hujan keras. Truthfully, aku juga tidak ingat hal apa tadi yang membuatku pergi begitu saja meninggalkan sahabatku dengan suasana hati yang sedikit marah. Hanya beberapa kata dalam conversation kami tadi dan itu langsung membuatku beranjak pergi darinya.



Inilah yang membuatku kembali mengingat seseorang yang juga pernah kutinggalkan dan sampai sekarang kami tidak pernah bertemu kembali. Dia adalah my first best friend, orang yang pertama kali membuatku percaya akan adanya sahabat. Dia juga orang yang selalu membuatku tertawa, nyaman, dan aman bila berada di sisinya. Dia sangat baik dan sangat takut membuatku terluka. Aku tahu itu karena Dia pernah mengatakannya ketika pernah sekali aku menangis karena Dia. Dia tidak berbuat kesalahan apapun ketika aku memutuskan menjauhinya. Akulah yang bersalah padanya. Sebuah kesalahan besar karena aku telah menganggapnya lebih dari seorang sahabat. And I realize, itu tidak boleh.
               
           Aku tidak ingin perasaanku ini membuatku melakukan kesalahan yang semakin besar. Therefore, aku menjauh dari Dia. Membuat pembatas setinggi mungkin agar tidak bisa bertemu dengannya dan Dia pun tidak akan bisa melihatku lagi. Menghindari setiap kegiatan yang dapat mempertemukanku dengan Dia. Maaf… Maaf… Maaf... Dan beribu-ribu maaf ingin kuucapkan padanya.

          
           Masa yang paling berat yaitu ketika di awal aku menghindarinya. Dia terus berusaha menghubungiku, mengajak ingin bertemu dengan berkata bahwa saat ini dia ingin berbagi cerita tentang masalah dan kebahagiaan yang dialaminya. Entah sekuat apa aku saat itu sehingga mampu menolak semua ajakannya, menghapus pesan-pesan darinya di hp, mengabaikan panggilan masuk darinya, inbox di facebook, mention di twitter, chatting di Yahoo Messanger! dan di berbagai social network yang lain. Itu benar-benar membuatku sakit dan merasa sesak di dada, heartbreak. Saat itu, aku hanya berpikir akan mengabaikan segala tentangnya beberapa waktu saja. Sampai Tuhan membuatku sadar, back to my sense.
Sekarang, setelah bertemu dengan Mr. R, aku sudah mampu mengendalikan perasaanku padanya. Bahkan aku mungkin sudah tidak berpikir lagi tentang ‘menganggapnya lebih dari seorang sahabat’. Tetapi itu sudah terlambat. Aku tidak akan bisa kembali menemuinya seperti dulu lagi. Aku merasa sangat bersalah padanya. Benar-benar tidak ada keberanian untuk mengirimkan pesan singkat padanya,”Kamu dimana? Aku kangen, sahabatku….”

Selasa, 03 Januari 2012

Dan Judul Pun Tak Ada

Hwaaaaaaaaaaaaaaaaa~!!!!!!!!!!!!

Asli, tuh org bner" ngesellin tiada tara. Bisa"nya dia marah dan meminta dengan tidak sabaran tanpa peduli dengan kondisi yang terjadi padaku saat itu. I'm just a girl whose hands are doing something. Mn bs saya make lagi buat kerja yang lain. Biarkanlah kedua tangan ini menyelesaikan kerjaannya kemudian dirimu datang meminta another. Bahkan mungkin saya bisa mengerjakan masalah ini lebih cepat dan membantu anda kalau anda tidak mengganggu.

Hal ini sungguh menyebalkan, ketika kebaikan kita disalahartikan oleh mereka yang kemudian akan berpikir kita mudah ditindas setelah kita banyak memberikan kemudahan untuknya. Of course, I really really hate the kind of people like this. Walaupun sepertinya itu hanya bercanda saja, tetapi tetap membuat jengkel.
Mudah-mudahan dia tidak mengulangi perbuatannya itu kepada orang lain. Kasian jg if others merasakan hal yang sama. Hfff, what a pity junior.

Kamis, 22 Desember 2011

Crazy Me


Reflection time, Mendadak Gila!!!


                Hwaaaaaa!!!!! Hari yang berat! Berat untuk bangun dari tempat tidur, bahkan berat walau hanya sekedar untuk mengangkat kepala! Oh, No… I suddenly remember today is Saturday. For some people today is a holiday, but for me today is a working day. Even it would be done until 20.00 pm. Hiks~
                Hm~, walaupun hari ini I’ll be busy with my job but I always present a few hours for taking some reflections. Ingat-ingat kejadian seminggu ni… *5 minutes later*… Oh, sucks!!! I regret to remembering it! Banyak banget masalah yang udah mencuat ke publik (bahasa gue dong, kaya’ pembawa acara gossip ne’) akhir-akhir ni. Mulai dari kecelakaan pandang (alamak) sama Mr. Glasses, ujian yang ngegantung (kaya’ ranting copot nyasar di sela-sela ketek pohon #plis, jangan dibayangin), black discuss, ngerayain ultah sahabat dengan senyum yang dipaksa dan ekspresi datar (bahkan ga’ bahagia sama sekali #hiks, maaf yh say. Habis waktu itu lagi puncak-puncaknya masalah). Then sumpit, itu semua sangat mengganggu hari-hari optimalku.
                Hwalamak!!! Kecelakaan pandang? Ambigu banget the title. Kalo diartikan menurut bahasa Indonesia yang baik dan mungkin aja benar, kecelakaan pandang itu merupakan pandang-pandangan satu sama lain di tengah rel kereta api lalu ga’ nyadar kalo kereta apinya mau numpang lewat sekejap buzzzzzzzz… horray!!! Ketabrak deh!!! Hwakakakak #dipelototi sama korban yang ketabrak.
                Hm, well… balik ke dunianya manusia-sadar daripada ngomong ngelantur yang kalo berlanjut terus jadi makin ga’ jelas. Kecelakaan yang dimaksud di sini, ketika mata sepasang individu yang sedang dimabuk cinta (ala Armada) ini saling berpapasan… Eits, yang satu malah langsung buang muka di detik-detik terakhir yang berguna banget buat majuin hubungan pertemanan menjadi kekasih. Dan celakanya orang itu adalah ME (jawabku sambil nunjuk diri dengan OC~Over Confident). Kecelakaan pandang banget kan #ngarep yang baca udah pada ngerti. Singkatnya (takut kepanjangan lagi dan ngelantur), akibat insiden sesaat yang kurang dari semenit itu udah mundurin (boro-boro maju) hubungan kami 5 langkah. Padahal setiap langkah itu dibangun dengan 1001 usaha dan do’a #lebay. L
                Nah, kalo yang masalah black discuss itu ga’ usah dan ga’ penting di bahas deh. Pokoknya cukup membuat perasaanku sama seperti bapak-bapak yang lagi bawa mobil mercedesnya ke bengkel ‘ketook magic’ (ngarep bakal disulap menjadi mobil ferrary yang okkeh punya), trus ga’ tau dan emang ga’ mau tau mobilnya lagi diapain di dalam, nguping suara gedubrak-gedebruk dalam bengkel. Dan akhirnya sukses membuat si bapak-bapak ini penasaran. Of course si bapak-bapak ini pun memutuskan  masuk dan memeriksa apa yang dilakukan montir-montir seksi (bacanya: montir-montir serem) pada mobilnya. Dan apa yang didapatinya… hwalaaaaa, mereka sukses membuat mobil Mercedes bapak-bapak ini berubah menjadi ‘Bemo’ keluaran taon Malin Kundang masih nyusu sama emmaknya, Dayang Sumbi (Nah loh, bukannya Dayang Sumbi itu emmaknya Sangkuriang yak?? #garuk-garuk kepala). Kejaaam banget kan #so’ shocked.
                Mm, kalo cerita ultah sahabatku yang hampir aja gagal dirayain itu masalah lain lagi. Momentnya ga’ tepat guys. Ga’ berat sama sekali sih waktu ngerjain dia dengan pura-pura marah karena suatu kesalahan yang dibuat-buat. Habis waktu itu kan aku emang lagi marrah-marrimar (r-nya double) benaran. Jadi, kesannya aktingku itu natural banget (malah bisa ngalahin artis-artis Hollywood yang jago acting dan dapat pialanya om Oscar). Hwahahaha. Tapi yang susah tuh malah ending dari kejutan ini. Aku harus bisa tersenyum (nyengir kalo perlu) di depan orang-orang sambil bilang HAPPY b’day yah say. Gimana mungkin aku senyum saat perasaan di hati bagai ditusuk-tusuk paku tindis nyampur pisau belati, sangkur, dan duri kaktus (alamak, udah sesadis Jigsaw di film Saw). Hiks~
                “Yhu….!!! Yhu…!!!” Terdengar suara ibuku dari lantai satu memanggil-manggil bak rayuan pulau kelapa. “Ga’ kerja hari ini Nak?” muncul pertanyaan.
                “Bloom Bu. Ntar jam 1 baru masuk,” aku menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari Bummie (my Lovely Laptop).
Seolah terdengar ibuku berkata “Great!” sebelum akhirnya bersahut lagi “Cepat ganti baju dan cuci muka. Antar ibu ke acara akikahan tante Nak!”
                Oh, No! Harusnya kuperkirakan ini sebelumnya. Dengan senyum yang dipaksa, aku kemudian menjawab, “Beres Mam! Just wait me for a few minute.” That’s the end of my conversation with my Lovely Mom. And it means (I’m sure you know) I must prepare myself and going now. So, I say goodbye for this section of speak up… Bye!